Showing posts with label wanita malam. Show all posts
Showing posts with label wanita malam. Show all posts

21 November 2011

Inilah Isi Otak Perempuan Ketika Orgasme


Para ilmuwan menggunakan alat pindai otak untuk merekam aktivitas otak perempuan ketika mendekati, mengalami, dan setelah mencapai orgasme untuk mempelejari mengapa banyak perempuan atau laki-laki tidak bisa mencapai klimaks dalam hubungan seksual.

Dalam penelitian itu Profesor Barry Komisaruk, seorang psikolog dari Rutgers University, New Jersey, Amerika Serikat, meminta seorang sukarelawan perempuan untuk masuk dalam alat pindai (fMRI) dan melakukan masturbasi di dalam kapsul magnetik itu.


"Tujuan umum dari penelitian ini untuk memahami bagaimana orgasme itu tercipta dari rangsangan genital dan bagian otak mana yang terlibat, hingga akhirnya menciptakan orgasme," kata Komisaruk, yang hasil studinya dipresentasikan di hadapan pertemuan tahunan Society for Neuroscience, di Washington DC, AS awal pekan ini.


Hasil pindai itu kemudian dirajut menjadi film animasi yang menunjukan serangkaian aktifitas otak dalam irama yang stabil dan harmoni.


Animasi yang barlangsung selama lima menit itu menunjukan bagaimana aktifitas otak berlangsung di 80 bagian berbeda. Untuk melacak intensitas aktifitas otak para peneliti menggunakan skala panas yang sering digunakan pada logam, dimulai dari merah tua, jingga, kuning, dan putih untuk menunjukan aktifitas yang paling intens.


Jika melihat film pendek hasil pindai otak itu akan terlihat aktifitas otak dimulai dari bagian korteks otak yang berhubungan dengan alat kelamin, khususnya ketika area sekitar kemaluan disentuh.


Aktifitas otak kemudian bergeser ke sistem limbik, bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan ingatan jangka panjang.


Ketika telah memasuki puncak orgasme maka dua bagian otak yang disebut serebelum dan konteks frontal serentak beraktifitas lebih cepat. Perubahan tiba-tiba itu mungkin disebabkan oleh gerakan otot-otot yang intens.


Selama orgasme, aktifitas otak mencapai puncaknya di bagian hipotalamus yang mengeluarkan hormon oksitosin, senyawa kimia yang memantik sensasi kepuasan dan merangsang uterus untuk berkontraksi. Puncak aktifitas otak juga terjadi di nukleus akumbens, bagian otak yang berhubungan dengan kepuasan dan reward.


Setelah orgasme, aktifitas otak secara teratur mereda.


"Ini adalah sistem yang indah. Kami harap film ini bisa membantu pemahaman kami akan kondisi patologis orang yang tidak bisa mencapai orgasme (anorgasmia), untuk mencari tahu tahap mana dari proses itu yang terputus di tengah jalan," harap Komisaruk.

Sayangnya sampai saat ini saya belum bisa menemukan sumber film animasinya. Namun mungkin video berikut cukup membantu.

20 November 2011

7 Mahasiswi Rela Bugil Demi Lembaga Amal Di Inggris


Sedikitnya 7 mahasiswi dari Equestrian Society Universitas Leed, Inggris,rela tampil setengah bugil di kalendar amal dan bahkan menjadi maskot tentara yang sedang bertugas di Afganistan. Demikian dilansir Daily Mail.

Setelah foto bugil kalender beredar di dunia maya, mereka kemudian maskot bagi batalion tentara yang sedang bertugas itu. Para mahasiswi ini berharap bisa mendapatkan dana hingga 1.000 poundsterling dari penjualan kalender untuk lembaga amal Otley and District Riding for the Disabled.
"Ini menjadi sebuah pengalaman yang sungguh luar biasa termasuk memperlihatkan sebuah gebrakan baru menunggang kuda dengan hanya mengenakan sedikit penutup tubuh," demikian ketua klub E Otley and District Riding for the Disabled, Laura Fielding.

"Ini sungguh luar biasa. Saya sangat dekat dengan semua anak-anak itu dan mereka melakukannya untuk sebuah tujuan yang mulia," kata Fielding. Setelah melakukan tugas sebagai relawan di Otley and District Riding for the Disabled, para mahasiswi ini memutuskan membuat kalender bugil untuk membantu lembaga amal itu.

Lembaga amal ini mulai didirikan pada tahun 1987, sebuah lembaga yang memberikan bantuan kepada orang-orang cacat agar bisa menunggang kuda demi memenuhi standar kesehatan. tribunnews.com
 
 

Berawal Dari Khayalan Akhirnya Jadi Kenyataan( Cerita Dewasa)

Cerita ini di mulai waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA di kota B. Usia saya sekarang 33 tahun, berarti kejadian ini terjadi 16 tahun yang lalu.

Panggil saya Kadek, ketika itu saya mempunyai kelompok belajar yang selalu rutin belajar di salah satu rumah teman kami, Bima. Saya, Bima, Hendra, Julian dan Rizki setiap akan ulangan selalu belajar berkelompok sambil menginap, karena anak kelas satu masuk sekolah selalu pada siang hari.

Teman saya, Bima, memang dari keluarga yang lebih dibanding teman-teman yang lain. Dia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara (2 pria dan 2 wanita), dari ayah seorang pejabat Depkeu.(drs.E) dan Ibu dosen fakultas sastra di universitas negeri di kota B, yang biasa kami panggil Tante N. Otomatis kami selalu tidur, makan dan mandi di sana, malah kalau keluarga drs.E berpesiar, kami suka diajak.

Bila Bima sedang di bawah (karena kamarnya memang di lantai 2), kami selalu membicarakan sangkakak no.3 yang bernama E. Hal-hal yang dibicarakan tidak lain adalah wajah yang good looking serta body yang aduhai disertai kulit putih mulus terawat. Tapi anehnya, saya kok lebih suka memperhatikan Tante N, yang diusia 42 tahun lebih menimbulkan hasrat serta fantasi-fantasi seksual yang membuat perasaan risih. Karena walau bagaimanapun Tante N adalah ibu kandung dari teman baikku. Jadi, saya hanya bisa berkhayal dan tidak berani cerita pada orang lain.


Karena keluarga drs.E adalah pencinta sport, maka setiap weekend selalu diisi dengan kegiatan berolahraga, terutama olah raga tennis. Karena saya cukup mahir bermain tennis, saya selalu diajak untuk bermain tennis. Karena saya dianggap paling jago, maka saya sering berpasangan dengan Tante N apabila bermain double. Selain badan Tante N yang proporsional dengan tinggi badan sekitar 165 cm, pakaian tennis Tante N memang sexy dengan rok pendek serta atasan model tank top, pelukan-pelukan serta sentuhan, apabila kami memenangkan game membuat hati saya berdebar-debar dan hasrat seksual terhadap Tante N semakin menjadi-jadi. Malah, setiap selesai bermain tennis saya bermasturbasi dengan membayangkan wajah Tante N serta bersetubuh seperti film BF yang biasa saya tonton.

Pada hari Sabtu di bulan Januari, karena saya tidak memiliki pacar, saya sering berkeliling kota dengan mobil ayah untuk menghabiskan malam panjang sendirian. Karena teman-teman belajar saya semua pada ngapel, termasuk Bima. "Ah Sial.." ketika baru saja lewat rumah keluarga drs.E, mobil terbatuk-batuk seperti habis BBM. Padahal hujan begitu lebat di luar dan SPBU terdekat kira-kira 2 km dari lokasi tempat mobil saya tepikan di bahu jalan. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjam telepon ke rumah Bima, untuk menelepon ayah atau siapa saja untuk membantu kesulitan gara-gara lalai terhadap yang namanya BBM.

Ketika saya tiba di rumah Bima, sambil hujan-hujanan suasana rumah tampak sepi, tidak ada mobil atau pun suara televisi yang menandakan adanya kehidupan. Dengan hati lemas saya pijit bel rumah 2 kali, "Tingtong... tingtong.." Tidak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah. "Siapa..?" Hati saya berdebar, karena saya sangat mengenal suara itu. Kemudian saya menjawab, "Kadek, Tante.. maaf malam-malam Tante. Saya mau pinjam telepon, mobil saya mogok, Tante." Terdengar gerendel pintu berbunyi, dan ketika pintu terbuka tampak sebuah sosok yang sangat saya kenal, sosok yang selalu hadir disetiap fantasi seksual saya. "Aduh Kadek kenapa? kasian malam-malam gini hujan-hujanan, ayo cepat ke kamar Bima, kalo udah selesai ke ruang makan yach! Tante buatin minuman hangat." Sambil mengeringkan badan dan mengganti baju, masih terbayang siluet badan Tante N ketika tadi membuka pintu, yang membayang dari gaun tidur yang tipis.Dalam hati saya bertanya, "Kok sepi sekali, yang lain pada ke mana yach."

Sambil menghirup coklat panas yang dihidangkan Tante N, akhirnya saya beranikan untuk bertanya.
"Tante, Oom, Bima dan yang lain pada ke mana? Keliatannya rumah kok sepi sekali."
"Ini lho, adiknya Oom yang di J, sedang sakit, karena si Mbok juga lagi pulang, terpaksadech Tante jadi hansip dulu. Eh.. kamu jadi telepon nggak."
"Eh iya Tante, kok jadi lupa nih."
"Makanya, jangan suka ngelamun, dari tadi Tante perhatiin kamu kok bengong terus, ada apa sih?"
"Nggak ada apa-apa kok Tante!"

Saya langsung bergegas ke ruang keluarga, dan segera telepon ke rumah. Saya coba berulangkali tetap telepon tidak bisa aktif. Tiba-tiba terdengar suara Tante N, "Bisa nggak Dek? Kalo hujan begini biasanya jaringan telepon di sini memang suka ngadat."
"Udah deh, kamu tidur sini aja, Tante juga jadi ada yang nemenin."
"Iya Tante."
Setelah itu, saya dan Tante N segera beranjak untuk meneruskan obrolan di ruang keluarga. Sebelum saya sempat duduk di sofa, Tante N berkata, "Dek, tolong dong Tante ajarin lagu Turkish March-nya Bethoven, Tante masih kagok tuh perpindahan jari-jarinya."
"Kapan Tante?"
"Ya sekarang dong! Kapan lagi coba kamu punya waktu untuk ngajarin Tante."

Kemudian kami menuju piano dan duduk sama-sama di kursi piano yang tidak terlalu lebar. Karenasaya mengajari perpindahan jari-jari tangan, otomatis saya selalu memegang jari tangan Tante N yang halus dengan kuku-kuku yang terawat dengan baik. Jantung saya terasa makin lama makin berdebar, apalagi setiap menarik nafas harum tubuh Tante N, sepertinya memenuhi rongga dada dan membuat adik kecilku mengeras secara perlahan.

"Kamu kok suaranya bergetar Dek, lagi nggak enak badan yah?"
"Nggak kok Tante, saya hanya.."
"Hanya apa hayo! nggak mau ya lama-lama temenin Tante, atau kamu udah ada janji malem mingguan."
"Saya nggak punya pacar kok Tante, nggak kayak Bima ama yang lainnya."
Sambil terus duduk berdekatan, tiba-tiba kepala Tante N bersandar pada bahuku dan bertanya, "Dek, Tante mau tanya apa Bima pernah cerita nggak kalo ayahnya punya istri lagi yang jauh lebih muda dari Tante, usianya sekitar 25 tahunan lah."
"Masa sih Tante, keliatannya Tante sama Om mesra-mesra aja!"

Ketika tangan Tante N bergeser untuk bertumpu pada pahaku, secara tidak sengaja menyentuh adikku yang sejak tadi makin mengeras saja dan membuatku berteriak kecil, "Ah..." Sambil Tante N memandangku yang tertunduk malu dengan wajah sendu dan sensual, Tante N kembali bertanya, "Dek, kamu udah pernah berhubungan seksual belum?"
"Be..be..be..lum pernah Tante!"
"Mau nggak Tante ajarin? sebagai ganti kamu ngajarin piano sama Tante."
Saya diam seribu bahasa, dan tiba-tiba bibir Tante N telah menyerbu bibirku secara bertubi-tubi sambil lidahnya terus berusaha menjilat dan meracau, "Ah..ah..ah..." Sambil terus mencium bibirku, tangan Tante N terus meremas telinga dan rambutku.

Tiba-tiba Tante N berkata, "Dek! kita pindah ke kamar yuk.."
Sambil bibir kami terus berpagutan, kami pindah ke kamar tidur dan langsung merebahkan badan dengan badanku ditindih Tante N. Selanjutnya Tante N segera melucuti baju tidurnya dan membentanglah suatu pemandangan indah, payudara yang proporsional (kira-kira 36B) denganputing warna merah maron dengan dibungkus kulit putih yang mulus tanpa cacat, dan yang lebih lagi adalah selangkangan dengan bulu-bulu hitam yang tidak begitu lebat dengan belahan merah muda yang mempesona. Dalam keadaan masih bengong, tiba-tiba tangan Tante N menarik tanganku danlangsung dibimbingnya ke arah payudaranya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, saya langsung meremas dengan halus sambil memilin puting susunya yang makin tegak dan mengeras.

"Ah.. ah.. ah.. terus Dek, buat Tante puas Dek.." Sambil terus meracau Tante N segera melucuti seluruh bajuku, dan mulai meraba-raba daerah selangkanganku serta mulai meremas adikku yang terasa nikmat sekali.
"Punya kamu besar juga ya Dek"
"Boleh nggak Tante jilatin biar makin besar?"
"Emangnya Tante mau gitu..?"
Lansung posisi Tante N berubah dan mulai turun perlahan dengan terus menjilati tubuhku, dari leher, dada, perut, dan tiba-tiba kurasakan cairan hangat mulai membasahi batang dan kepala adikku. Dan ketika saya memberanikan diri untuk melihat, rupanya kemaluanku sedang dijilati Tante N, kadang-kadang dikulumnya sambil kurasakan kepala kemaluanku menyentuh ujung kerongkongan Tante N.

Tiba-tiba Tante N merubah posisinya, sambil terus mengulum dan menjilat kemaluanku, Tante N memutar badan dengan selangkangannya menghadap wajahku. Terlihatlah suatu pemandangan indah, bulu hitam dengan belahan merah dan segumpal daging merah kecil yang berkilau. "Jilat Dek,jilat Dek," pinta Tante N. Tanpa sungkan-sungkan dan membantah, langsung saja kuarahkan lidahku untuk menjelajah sambil terus menghirup harumnya kemaluan Tante N yang bagaikan candu itu.

Usai kegiatan saling menjilat, Tante N segera berbaring dan memintaku untuk bangkit sambil tangannya terus menggenggam adikku dan dituntunnya ke arah kemaluannya. "Masukkan Dek, masukkan Dek!" pinta Tante N, seperti anak kecil yang sedang merengek-rengek. Sesuai permintaanku, segera Tante N menekan tubuhku hingga adikku terarah dengan sempurna, dan terasalah suatu rasa yang sensasional ketika kulit kemaluanku bersentuhan dengan dinding kemaluan Tante N yang sudah basah dengan cairan hangatnya. "Ah.. ah.. ah.." suaraku dan suara Tante N memecah kesunyian dandinginnya malam. Sambil saya terus memompa Tante N tidak lupa saya meremas-remas seluruh tubuh Tante N yang memelukku dengan goyang pinggul yang seirama.

Tanpa berkata apa-apa, Tante N membantingku dan tiba-tiba Tante N telah menduduki tubuhku dan mulai bergerak turun naik memutar. Saya semakin takjub saja melihat kedua payudara Tante N seperti bergejolak untuk memuntahkan isinya. Sambil kami terus meracau dengan kata-kata yang menunjukkan kepuasan, Tante N memintaku untuk membalikkan badannya ke posisi semula sambil memintaku untuk memompa lebih cepat. Lalu kurasakan kemaluanku semakin berdenyut dan kemaluan Tante N juga kurasakan hal yang sama. Tidak lama kemudian tubuh kami mengejang, dan seperti di komando kami berteriak, "Ah.. ah.. ah.." sambil dari kemaluanku kurasakan keluar cairan nikmat dengan denyut kenikmatan dari dalam kemaluan Tante N dan kami saling berpelukan dengan erat sambil terus menikmati kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Usai adegan yang tak mungkin kuhapuskan dari ingatanku, Tante N bertanya, "Kamu suka Dek? Mau kan lain kali kita ulangi lagi."
"Mau Tante... kapan pun Tante mau, saya akan meluangkan waktu untuk Tante."
Tidak lama kemudian kami tertidur sambil terus berpelukan hingga keesokan harinya.

Rekan-rekan pembaca, usai kejadian itu kami masih terus melakukan affair. Hal ini berakhir ketika saya menikah 4 tahun yang lalu. Beliau berkata, "Jangan hianati istrimu, karena Tante sudah merasakan bagaimana dihianati suami."

Sampai sekarang kami masih berhubungan baik, bersilaturrahmi dan saling memberi spirit di saat kami merasa jatuh. Saya sangat menghormati hubungan ini, karena pada dasarnya saya sangat menghargai Tante N sebagai istri dan ibu yang baik.

Tante Yani Yang Cantik dan seksi(Cerita Dewasa)

Di kelas aku jadi sering melamun, membayangkan waktu aku menyelusuri seluruh permukaan dada Tante dengan mulut dan lidahku. Membayangkan bagaimana kelaminku secara perlahan memasukinya… Bel tanda pulang berbunyi. Aku bersorak. Ingat ke rumah, ingat malam ini Tante menjadi milikku. Akan kureguk semua kenikmatan dari tubuh Tante. Pokoknya nanti akan kunikmati seluruhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, sampai puas.

Memang aku bisa puas, tapi bagaimana dengan Tante ? Dua kali aku berhubungan kelamin dengan Tante, dua-duanya aku bisa mengeluarkan spermaku ke dalam lubang kelamin Tante, sampai puncak, sampai puas. Tapi Tante tidak. Aku jadi cemas, jangan-jangan nanti aku juga begitu.
Tapi aku ingat, yang kedua kemarin tante bilang aku ada kemajuan. Hal ini sedikit menghiburku. Mudah-mudahan yang ketiga nanti dengan bertambahnya pengalamanku, ada kemajuan lagi. Aku agak tenang sekarang. Di rumah sepi-sepi saja. Tak ada siapapun, juga Tante. Aku makan siang sendirian. Tante mungkin ada di kamar, pintu kamarnya tertutup. Kuselesaikan makan siangku dengan cepat, lalu duduk saja di meja makan, berharap Tante akan keluar dari kamarnya. Setengah jam berlalu, masih sendiri. Aku ke ruang keluarga nonton TV. Duduk di sofa lalu ingat, kemarin di sini aku menikmati buah dada Tante dengan tuntas. Diam-diam punyaku mulai tegak, padahal hanya membayangkan yang kemarin. Ditambah lagi acara TV menyajikan fashion show di Sydney, Australia. Peragawati cantik-cantik yang berlenggok di catwalk itu umumnya tak memakai kutang. Kalau model bajunya berdada rendah, belahan dadanya jelas. Kalau bahannya tipis, putingnya menonjol. Apalagi peragawati yang punya dada besar, buahnya berguncang waktu ia melenggang. Aku tambah tegang, makin pusing karena terangsang. Oh. Tante sayang, kemanakah engkau. Aku membutuhkanmu sekarang! Tiba-tiba pintu kamar Tante terbuka. Aku menoleh. Kepala Tante nongol memberi isyarat padaku dengan mengangguk-angguk. Nasibku memang beruntung. Jelas ini isyarat ajakan masuk. Tapi masak di kamar itu, kamar pribadi Oom dan Tante. Aku ragu, bengong saja belum bereaksi atas isyaratnya. Sekali lagi Tante mengangguk, kali ini sambil mengedipkan kedua matanya.
Dengan pasti aku melangkah menuju kamarnya. Kepala Tante lenyap. Aku masuk langsung menutup pintu kamarnya dan mengunci. Di ranjang besar itu Tante terlentang. Mengenakan baju tidur tipis, sehingga samar-samar celana dalam dan kutangnya terlihat. Matanya sayu memandangku, berkaca-kaca. Kutang itu bergerak naik-turun menandakan nafas Tante sudah memburu. Aku tak tahan melihat pemandangan yang menggairahkan ini, segera saja aku menghampirinya. Tapi… “Tunggu dulu. Buka dulu dong, pakaianmu” perintahnya. Okey, tanpa dimintapun aku akan membuka. Sementara aku membuka pakaian sampai telanjang bulat, Tante memelorotkan celana dalamnya dengan posisi masih terlentang. Kini di balik baju tidur tipis itu nampak rambut-rambut halus yang menggemaskan itu. Belum sempat aku bergerak, ada lagi ‘ulah’ Tante. Ditariknya gaun tidur tipis itu perlahan, memperlihatkan paha bulat itu. Ditarik lagi keatas sampai pusarnya nongol. Kelamin berambut halus dan perutnya terbuka terhidang di depanku. Luar biasa. Tante menyajikan ’strip tease show’ di depanku! Ada-ada saja Tante ini. Dengan ’senjata’ yang tegak keras aku menghampiri tubuh indah ini. Kucium rambut-rambut halus itu sebentar. Gemasnya aku. “Aaaaaaaahhhh” teriak Tante. Aku berpindah ke atas, kulumat bibirnya sambil meremas sebelah dadanya. Kutang itu perlu disingkirkan dulu seharusnya, tapi aku tak sempat. Tanganku sebelah lagi bergerak ke bawah. Eh, Tante sudah basah! Benjolan dan pintu itu licin. “Hhhhhhhhmmmmmmmm..” Tante tak mampu melenguh karena bibirnya aku kunci dengan bibirku. Disingkirkannya tanganku yang sedang asyik di bawah, dipegangnya kelaminku, lalu diarahkannya ke ‘pintu’. Rupanya Tante ingin memulai sekarang. Mungkin sama dengan aku, sudah sama-sama terangsang lebih dulu sebelum bergumul. Aku terrangsang oleh bayanganku dan peragawati tadi, Tante terangsang entah oleh apa. Aku mulai ‘masuk’ “Aduhh! Pelan-pelan, To!” Tante mengaduh, memang masukku tadi agak kasar. “Maaf Tante, habis engga tahan sih..”kataku tersengal. Kamipun saling menggenjot. Lucu kelihatannya kali ini. Tante masih mengenakan gaun tidur dan kutangnya, kelamin kami sudah saling pagut… Hasilnya, seperti kemarin. Aku ‘keluar’ lebih dulu, sementara Tante belum terpuaskan benar. Kentara dari pinggulnya yang masih mencoba menggoyang sambil kakinya menjepit pinggangku. Kembali aku kecewa. Kalau kelaminku sudah bergesekan dengan kelamin Tante, disamping rasa nikmat, juga rasa geli luar biasa. Jika sudah geli begitu, aku tak sanggup lagi menahan untuk jangan sampai ke puncak dulu.
Kembali aku gagal memuaskan Tante. Kembali aku berusaha menetralkan suasana yang tak enak ini. Kuelus buah dada yang putingnya masih tegang itu dengan penuh perasaan, lalu kucium perlahan. Tante mengusap kepalaku. Kucium pipinya dengan mesra. “Tante..” “Hmmm” “Saya..engga..” “Udahlah..Tante tahu. Kamu engga usah merasa apa-apa. Tante maklum kok. Kamu tadi lumayan, sudah ada kemajuan” “Tapi Tante kan belum …” “Engga usah kamu pikirin. Tante mengerti” katanya menentramkan sambil mengelus-elus dadaku. “Saya engga bisa bertahan lama, Tante” “Sudah lumayan, kok. Tante tadi juga merasa nikmat. Kamu udah mulai pintar mengocok tadi” “Saya bisa merasakan Tante tadi belum puas” “Iya, memang wanita membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding laki-laki. Tapi kamu tadi ada kemajuan dibanding kemarin” “Tak adil rasanya. Saya merasakan kenikmatan luar biasa, sedangkan Tante belum” “Sudahlah, To. Tak perlu kamu pikirkan. Tante mengerti” “Terima kasih Tante” Kupeluk tubuhnya erat. Erat sekali. Diciumnya pipiku, lalu merebahkan kepalanya di dadaku. Aku mengelus rambutnya. “Tubuhmu atletis sekali. Dadamu bidang” katanya sambil tangannya menelusuri dadaku. “Iya, Tante. Dulu saya kerja di kebun. Saya juga sering olahraga” Tiba-tiba tangan Tante ke bawah menggenggam punyaku. “Kelaminmu besar sekali” “Ah, masa Tante. Saya kira biasa-biasa saja” “Apalagi kalau lagi tegang”. Kulirik punyaku, sudah agak surut. “Tubuh Tante luar biasa” balasku. “Kalau lagi tegang keras dan panas” komentarnya lagi masih tentang penisku, mengabaikan pujianku. “Buah dada Tante indah sekali” “Ah, masa. Dibanding punya siapa” pancingnya. “Siapa saja” Aku pura-pura terpancing. “Berarti kamu sering lihat buah dada, ya” Kubalikkan badannya. “Besar, bulat, kenyal, putih, licin, halus lagi” kataku sambil melihat dekat-dekat buah itu. “Buah dada siapa yang kamu lihat” tanyanya sambil menggoyang-goyang kelaminku yang masih berada digenggamannya. “Cuma baru ini” jawabku sambil mulai merabai permukaan dadanya. “Jujur aja, To. Dada siapa yang pernah kamu lihat” katanya lagi. Tante penasaran rupanya. “Sungguh mati Tante. Cuma punya Tante yang pernah saya lihat” “Yang bener, To” tangannya tidak menggenggam lagi, tapi mengelus kelaminku. “Benar Tante” “Kok tahu bagus ?” “Saya hanya lihat punya teman-teman sekolah. Itupun dari luar” “Pernah kamu pegang ?” Tangannya masih mengelus, aku mulai terangsang. “Ih, engga lah, Tante. Bisa gempar, dong” “Jadi, tahunya punya Tante bagus, dari mana ?” “Pokoknya, dari luar, punya Tante paling besar” Ujung jariku mempermainkan putingnya. Putting itu mulai mengeras. “Tante” “Hmm ?” “Apa setiap buah dada ujungnya begini ?’ “Begini gimana” “Panjang, mungil, tapi keras” “Mungkin. Punyamu mulai keras” Aku seperti disadarkan. Memang aku sudah terangsang akibat percakapan tentang dada dan elusan Tante pada kelaminku. Aku mau lagi. Kenapa tidak ? Mumpung masih ada kesempatan. Oom Ton paling cepat besok siang pulangnya.
Segera saja kukulum putting yang sejak tadi kupermainkan. “Eeeeehhhhhmmmmmmm..” Tante melenguh panjang. Tanganku ke bawah mencari-cari di antara ‘rambut-rambut’. Basah di sana. Kugosok yang basah itu. “Uuhmmmm….Aaahhhhhhh..Uuhhmmmmm” desahnya agak keras, mengikuti irama gosokanku. Kelaminku diremas-remas. Enak. “To… Hhheeeehhhggh..sedap, To..Hhheeeeeghh” Tante makin ribut, aku khawatir kalau sampai terdengar dari luar kamar. Ah, tak ada orang ini. Aku makin giat menggosoki tonjolan kecil di bawah sana. Tante makin ribut, menceracau tak karuan Gosok lagi. Teriak dia lagi. Akhirnya… “Udah, To.ampun..Ayo To, sekarang To, sekarang…!” Aku bangkit. Kelaminku yang sudah keras kupegang pangkalnya, kuarahkan. Tante membuka kakinya lebar-lebar. Demikian lebarnya sampai kedua lututnya ke atas, menyuguhkan kelaminnya yang membasah, tepat di depan kelaminku. Aku masuk. Kudorong perlahan. “Oooohhh, To..sedapnya….” Sudah tenggelam separoh. Kudorong lagi. “Aduuuuhhhh, mamaaaa, nikmatnya…” teriaknya lagi. Kudorong lagi. Sudah masuk seluruhnya. Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Tanganku ke belakang punggungnya. Kudekap erat tubuhnya, lalu aku mulai menggenjot. Sedaaaaaaaapp. Bertumpu pada kedua lututku, aku menarik dan mendorong pinggulku. Nikmaaaaaaaaaattt. Entah kata apa saja yang keluar dari mulut Tante aku tak peduli. Terus saja menggenjot, naik-turun, keluar-masuk. Aku nikmati benar gesekan kelaminku pada dinding vagina Tante. Kadang selagi punyaku didalam, Tante “mengikat” pahaku dengan kakinya sambil memutar pantatnya. Kurasakan sentuhan seluruh relung kelaminnya pada kelaminku. Luar biasa sedapnya. “To…hhehh.kamu…hhehh..kok..hhehh..”Tante mencoba bicara disela-sela nafasnya yang memburu. “Keenaapaa . hheehh.. Taanntee…hhehh” “Kamu….kok…lama…” Baru aku menyadari, sudah puluhan kali kelaminku kugenjot keluar- masuk-putar, tapi aku tak merasakan geli seperti biasanya. Yang kurasakan hanya nikmat. Rasa geli yang tak bisa kutahan yang kemudian membuat aku ke ‘puncak’, kali ini tak kurasakan! Heran! “Engga …tahu.. Tante..” “To, Oh my God..heeeehhhhhh” “Enak…Tante…?” “Wooow….luar biasa…” Genjot dan genjot lagi “Kamu..masih…lama..To..?” “Masih…Tante.” Memang aku belum merasakan “geli menuju puncak” “Diam. dulu,.. To” Aku menghentikan genjotanku. Posisiku masih “di dalam”. Tangan Tante memeluk erat punggungku, sementara kakinya mengikat pahaku. Lalu tubuhnya bergerak miring hendak merobohkan tubuhku. Aku bertahan, tak tahu maksudnya. “Gantian, To…Tante di atas.” Baru aku tahu maksud gerakan Tante ini. Kuikuti gerakannya, tapi.. “Jangan.sampai…lepasss” Rupanya gerakan robohku terlalu cepat, sehingga kelaminku sedikit tercabut. Untung Tante cepat mengimbangi gerakanku, hingga punyaku “masuk lagi”. Sekarang kami sudah sempurna berbalik posisi. Tante yang menindihku. Hanya sebentar. Tante lalu perlahan bangkit mendudukiku. Kelamin kami tak terlepas. Tante mulai bergerak. Aneh, gerakannya maju-mundur! Rasanya lain pula, tapi sama sedapnya! Dengan posisi begini gesekannya terasa lain.
Kadang diputar, seperti diperas. Kadang Tante “jongkok”, pantatnya naik-turun, sedap juga. “Aaaahhhh..kamu..nakal” teriaknya ketika dia berjongkok membenamkan kelaminku, aku mengangkat pantatku. Kedua tanganku diraih, dituntun ke dadanya. Kuremas dada yang tambah licin kena keringat. Entah sudah berapa lama akhirnya Tante capek juga. Dia rebahkan tubuhnya. Kupeluk. Kumiringkan, aku ingin di atas lagi. Tante menurut. Dengan hati-hati kami mengubah posisi, agar jangan terlepas. Aku berhasil. “Kamu…udah..pintar..”pujinya. Dengan posisi di atas aku jadi bebas menggenjot. Lagi-lagi Tante teriak. “Terus..To.., Tante…hampir…” Terus. Tusukanku makin menggila. Teriakannya makin keras. Rasa geli datang, dimulai dari ujung penis, terus menjalar ke seluruh tubuh. Makin geli. Makin cepat aku menarik-tusuk. Kesemutan…mengambang..melayang..dan……. “Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh….” Seeeerrr, denyut-denyut, seeerrr, bergetar, serrrrr, berguncang..seer. Entah sudah berapa kali seerr, yang jelas setiap kali keluar aku merasakan kenikmatan yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Begitu nikmat. Aku sampai lupa memperhatikan tingkah Tante. Badannya telah bergeser ke atas karena ku”dorong” dengan tusukanku. Bantalnya bukan lagi di kepala, tapi di punggung. Sedangkan kepala terkulai, mata melihat ke atas, bibir terkatub rapat seluruh tubuh gemetaran. Teriakannya ? Tak perlu kuceritakan. Agak lama juga aku dan Tante bergetaran begini, merasakan puncaknya kenikmatan hubungan kelamin……. Lalu, hanya nafas kami berdua yang terdengar, seolah berebut mengisap oksigen untuk mengembalikan enerji yang keluar. Lalu barangsur pelan, makin beraturan. Tante masih “terkapar” Aku lunglai di atas tubuhnya.
Ini keempat kalinya aku bersetubuh dengan Tante. Yang terakhir inilah kurasakan sangat berbeda dibanding tiga kali yang terdahulu. Lebih nikmat, lebih memuncak, lebih lama, lebih banyak aku mengeluarkan “air”ku, lebih bergetar, pokoknya …..susah diceritakan. Pengalaman baru tentang rasa nikmat. Dan lagi, mudah-mudahan pengamatanku tak salah, Tante begitu menggelepar, mengerang, teriak, berbeda dengan sebelumnya, Tante kali ini kelihatan “selesai”. Semoga begitu. “Ooh..To., kamu hebat” Diciumnya pipiku dengan gemasnya. “Apanya yang hebat, Tante” “Kamu betul-betul lelaki” tambahnya “Memang dari dulu saya laki-laki. Ini buktinya” Kusodorkan kelaminku, menusuk perutnya. “Laki-laki yang jantan” diremasnya penisku dengan gemas. “Auu” teriakku “To…luar biasa..” Tak putus-putusnya ia memujiku. “Enak engga tadi, Tante ?” “Wow. bukan main. Sangat!” Kupeluk tubuhnya. Aku merasa bahagia sekali. “Tante sayang..” Aku berbisik semesra mungkin. Agak kaget Tante memandangku, lalu tersenyum. Manis sekali! “Ada apa ‘yang ?” Wuih, mesra banget. Tante memanggilku ‘yang’. “Saya sayang Tante” Kucium bibirnya. “Hhmmmmmmm” lenguhnya. “Kalau lama, enak sekali ya Tante” “Kok kamu tadi bisa lama” “Engga tahu, Tante. Mungkin karena tadi ronde kedua” “Atau mungkin karena kamu udah mulai pandai” “Yang pandai gurunya” “Huuuu” cibirnya sambil mencubit tongkolku. Aku senang. “Guruku yang cantik” Dicubitnya hidungku. “Dan berpengalaman” godaku lagi. “Aaah, udahlah, To” Kami diam lagi. “To.” panggilnya tiba-tiba. “Ya.sayang” “Jangan tinggalin Tante, Ya” “Oo, engga dong. Masa Tante yang jelita begini mau ditinggalin” “Tante serius, To” “Saya juga serius, Tante. Saya membutuhkan Tante. Saya ingin begini setiap hari, Tante” “Saya butuh kamu” Nah ini baru pernyataan. Ini pernyataan baru. Tante membutuhkanku ? Bukankan ia punya suami ? “Oom Ton gimana Tante” Tiba-tiba wajah Tante berubah, agak sedih kulihat. “Tante….ah engga. Pokoknya kita harus hati-hati, To. Ingat pesanku ‘kan ? Tante juga senang kita bisa begini terus. Tapi hati-hati, ya ?” “Pasti, Tante. Saya akan hati-hati. Tapi Tante mau kan, tiap hari” “Nanti kamu bosan” “Saya sudah bilang, Tarto sayang Tante. Tarto butuh Tante. Tarto ingin menikmati setiap hari. Tadi Tante bilang membutuhkan Tarto. Maksudnya gimana Tante ?” “Iya.sama seperti kamu, Tante juga ingin setiap hari” Klop ‘kan ? Keinginan yang sama, saling membutuhkan, saling memuaskan, dan….saling menyayangi. Apakah ini yang dinamakan cinta ? Ya, apakah kami saling mencintai ? Aku memang tak ingin kehilangan Tante, tapi Tante sendiri bagaimana ? Apakah ia membutuhkanku karena mencintai keponakannya ini ? Atau karena aku baru saja memuaskannya ? Bagaimana dengan suaminya ? Jangan-jangan ia tak mendapatkan kepuasan dari Oom Ton ? Aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir ini, tapi mana berani aku menanyakan langsung kepada Tante. Ah, itu tak penting. Yang penting, aku sekarang punya kekasih yang luar biasa, yang bisa membuatku melayang-layang di puncak kenikmatan. Lelah benar aku malam ini. Bayangkan, malam ini dua kali aku “bertempur”.
Terutama yang terakhir tadi, permainan lama yang betul-betul menguras tenagaku. Aku sekarang ingin istirahat. Masih agak sempoyongan aku bangkit mengumpulkan pakaianku. “Mau ke mana To ?” “Saya ingin tidur, Tante” “Sudah tidur sini aja, temanin Tante” “Saya senang sekali Tante, tapi besok Oom ‘kan pulang ?” “Paling cepat besok siang” Aku memperhatikan Tante yang dengan malas bangkit. Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Masih telanjang bulat Tante berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya. “Kenapa, To” Tante merasa aku tatap begitu. “Tante memang indah” kataku sambil bergantian menatap dada dan ‘rambut’ bawahnya. “Kamu memang nakal. Sudahlah, bersih-bersih dulu baru kita tidur” Di dalam kamar tidur Tante yang luas ini ada kamar mandi yang luas pula. Ada dua wastafel cermin lebar, bath-tube, dan tempat untuk mengguyur (douce) yang berpintu kaca agak buram. Di bath-tube kami saling membersihkan, Tante menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ah, mesra sekali. Lalu berdua kami tidur berpelukan dibawah selimut yang hangat, tanpa pakaian. Tante yang punya ide begini. Enak juga. Jam dinding menunjuk waktu 11.32. Dua ronde permainan makan waktu hampir 3 jam. Pantas saja aku lelah. Dengan tergagap aku terbangun. Dimana aku in ? Tante masih ada di pelukanku. Kulihat sekeliling, ah aku tidur di kamar pribadi Oom Ton dan Tante Yani! Ada rasa enak di bawah sana. Ooh, Tante sedang asyik mengelus-elus penisku yang tegang. Setiap bangun pagi, tanpa dieluspun penisku memang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun.
Kulihat jam dinding, pukul 05.17. Ah , sudah pagi, aku harus siap-siap. Tapi Tante ini.. Tante memandangku, tersenyum, seperti biasa : manis. “Punyamu udah keras, To” Buah dada itu menyembul karena terpepet dadaku. Aku terangsang. Langsung saja aku raih buah indah itu. Putingnya sudah keras. Kami berpagutan. Aku ingin tahu kesiapan Tante pagi ini, tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin segera mulai. Tantepun paham. Kembali aku melakukan ‘pertempuran’ panjang melawan Tante. Rasanya jalan ke puncak masih lama. Aku mempercepat “pompaan”ku Belum juga. Aku terus melumat bibir Tante, mencegah “kicauan”nya yang makin keras, khawatir terdengar Mar yang sangat mungkin sudah bangun. Ganti posisi Percepat lagi. Hampir Ubah posisi Akhirnya, aku makin yakin seperti yang Tante katakan, bahwa aku lelaki tulen, jantan, hebat…. Pagi yang melelahkan sekaligus menyegarkan……! Tante memberikan bukti, bukan hanya janji.
Kami bersetubuh hampir tiap hari, kecuali kalau Tante senam. Waktu yang dipilihnya adalah siang hari, waktu saya baru pulang sekolah, di kamarku. Ini demi keamanan. Siang hari adalah saat yang paling aman. Saat Si Mar sedang sibuk bekerja di belakang, Si Luki bermain dengan pengasuhnya di rumah sebelah, dan saat Oom Ton belum pulang kantor. Siang hari memberikan Tante cukup waktu untuk membersihkan diri, menghilangkan “bekas”. Aku jauh dari bosan, seperti yang dikhawatirkan Tante. Karena aku memang sangat menikmati hubungan ini. Faktor lain yang membuat aku tak bosan adalah kreativitas Tante. Seperti yang kukemukakan di awal tulisan ini, ada saja ide Tante untuk membuat kejutan untukku setiap berhubungan kelamin. Entah itu posisi berhubungan, atau acara “pembukaan”, tambahan ronde, dan lain-lain yang membuat aku merasa “lain”. Pernah sekali waktu ketika aku pulang sekolah, ia sudah siap di dipanku memakai selimutku sebatas dada dan tak memakai apa-apa lagi di balik selimut itu. Kejutan yang membuatku “terbakar”. Lain kali lagi ia memintaku “masuk” dari belakang. Bertumpu pada lututnya ia ‘nungging’, aku bermain sambil memegangi pantatnya yang bahenol itu. Saat yang lain lagi, kami ‘bertempur’ di atas meja belajarku. Ia duduk di pinggiran meja membuka kaki, aku ‘masuk’ sambil tetap berdiri. Pernah juga di kursi belajarku. Aku duduk di kursi yang dirapatkan ke dinding, ia duduk di atas pahaku berhadapan. Dengan posisi begini ia bebas “memilih” posisi tusukan kelaminku di vaginanya. Posisi atau gaya apapun, yang jelas membuat kami berdua menuju puncak bersamaan atau hampir berbarengan. Kejutan yang susah kulupakan serta merupakan pengalaman baru bagiku adalah seperti yang akan kuceritakan di bawah ini. Seperti yang sudah-sudah, pulang sekolah setelah ganti baju, aku langsung menemui Tante meminta “jatah” bersetubuh. Aku sebut jatah karena kalau malam hari Tante bukan milikku lagi, tapi jatah suaminya. Siang itu ruang tengah sepi, Tante mungkin ada di kamarnya, kulihat pintunya sedikit terbuka. Aku ingin masuk ke kamarnya, kali ini aku ingin main di kamarnya, karena sejak “semalam 3 ronde” itu aku tak pernah lagi making love di kamar itu, selalu di kamarku.
Kuperiksa keadaan sekeliling dulu. Aman. Aku masuk kamarnya. Tante mengenakan kimono sedang mengikat rambutnya. Kukunci pintu, kupeluk Tante dari belakang, menggerayangi. Tak ada apa-apa lagi di balik kimono itu. “Hhmmmmm..sebentar ya ‘yang, Tante mau mandi dulu” “Engga usah mandi juga Tante tetap wangi” kataku terus menjelajahi tubuhnya. “Entar biar segar. Sabar dulu ya..” Aku menghentikan aksiku. “Saya ikut mandi Tante” kataku bercanda. “Ayolah, kita mandi bareng” Tak kusangka Tante menganggapnya serius. Ayo, kalau begitu. Aku langsung bertelanjang, menuntun Tante memasuku kamar mandi. Tante membuka kimononya, bertelanjang bulat juga, masuk ke ruang douce. Tak bosan-bosannya aku memandangi tubuh indah ini, padahal hampir tiap siang aku menggumulinya. “Ayo, To” ajaknya. “Kita main di sini Tante ?” nakalku timbul. “Hush, sekarang kita mandi dulu, kapan-kapan bolehlah” Tanganku yang bersabun menggosoki dadanya. Di bagian putting sengaja kutekan-tekan. Tante juga menggosok dadaku dengan sabun. Lalu perutnya, dan ke bawah lagi. Tangan Tante juga ke bawah. Diusapnya dengan sabun ‘rambut’ bawahku, kemudian dipegangnya batang kelaminku, digosok juga. Karuan saja batang itu membesar. “Hiiiiii, bangunnya cepet bener” Aku menikmati gosokannya. Tante benar-benar teliti, semua bagian dari alat vitalku itu dibersihkan dengan sabun lalu diguyur. Enak. Aku ikut-ikutan. Seluruh bagian kelaminnya aku bersihkan. Kalau aku lagi menggosok “pintu” kelaminnya, kulihat mata Tante merem-melek keenakan. Selesai mengeringkan badan aku langsung menubruk Tante. “Heee, jangan disini To, ingat dong” Oh ya. Siang begini terkadang si Luki suka masuk ke kamar, tentu diikuti si Tinah. Berbahaya. Aku berpakaian, hanya pakaian luar saja, pakaian dalam aku bawa, menyingkat waktu. “Hiiiii, lucu.” kata Tante mengomentari tonjolan di celanaku. Tantepun hanya memakai daster, tanpa pakaian dalam.
Aku masuk kamarku duluan, langsung berbugil. Sejurus kemudian Tante menyusul, juga langsung bertelanjang bulat. Kami langsung bersatu, saling raba dan saling pagut. Kali ini mungkin tak ada kejutan yang dibuat Tante. Atau ya itu tadi, mandi dulu sebelum main. Betul juga kata Tante, lebih segar. Aku meringkik kegelian ketika Tante menciumi pusarku. Ini mungkin kejutannya, tak biasanya Tante begitu. Tapi, Tante terus ke bawah menciumi ‘rambut’ku. Lebih kaget lagi, tangannya menggenggam kelaminku dan mulai menciumi barang yang sudah mengeras itu! Bukan main! Geli-geli nikmat. Bahkan.. “Aaaaaaaahhhh” aku mengerang ketika kepala penisku dimasukkan ke mulutnya! Luar biasa nikmatnya. Ini rupanya mengapa Tante begitu teliti membersihkan kelaminku waktu mandi tadi. “Tante…” Tante seolah tak mendengar panggilanku, terus saja asyik melahap barangku. Tante sanggup memasukkan barang itu hingga separohnya. Sewaktu di dalam, jelas kurasakan lidah Tante ikut bermain menggelitiki penisku. Woooow sedapnya tak terkira .! Sungguh ini pengalaman baru bagiku. Nikmatnya terasa lain. Entah apa yang dirasakan oleh Tante. Kok mau-maunya ia melakukan ini. Aku sih keenakan. Aku perhatikan bagaimana ia sibuk mengeluarkan-memasukkan penisku, kepalanya naik-turun berirama. “Aaaahhhhhhh…hhmmmmmmmm…ssssshhhhhhhh..sed ap, .. Tante., …Tante..pintar .sekali…” celotehku menahan nikmat. Bagaimana nanti kalau aku tak mampu menahan diri ? Masa aku menyemprotkan spermaku ke mulut Tante ? Ah, bagaimana nanti saja, yang penting sekarang….sedaaaaaaaaaap. Tiba-tiba Tante melepas “makanan”nya, disapunya barangku dengan kain dasternya yang tergeletak di dipan. Aku merasa kehilangan sesuatu. Dikeringkan. Lalu…dikulum lagi…! Nikmaaaaat.. Dilepaskannya lagi, barangkali mau dilap lagi. Ternyata tidak, badannya digeser sehingga kaki Tante berpindah ke arah kepalaku. “To, .. ayo cium, To..”katanya terengah. Sejenak aku bengong tak mengerti permintaannya. “Kamu cium ini…” katanya kemudian sambil menunjuk ke selangkangannya. Okey, Tante, toh aku sudah sering mencium ‘rambut-rambut’ halusmu itu. Aku mulai mencium. “Ke bawah lagi, dong To..” Ke bawah ? berarti disitunya ? Hal baru, kenapa tidak ? Kucium tonjolan kecil yang sudah keras itu. Asin rasanya. “Aaaaaaaahhhhhhhh, sedap To, terus…”
Kini lidahku yang menyapu-nyapu pintu dan tonjolan tadi “Yaaaahhh. yaaaaaa…begitu enak…” katanya sambil mulutnya menyergap lagi batang kelaminku. Ada cairan yang asin rasanya. Di kemudian hari aku baru tahu bahwa yang sedang aku dan Tante lakukan sekarang ini namanya “posisi 69″ Dalam mengulum ini Tante pintar sekali, banyak variasinya. Keluar-masuk, kadang menyedot-nyedot, bermain lidah, sesekali menggigit (aku langsung teriak). Akupun diajarinya bermain. Menggelitik ‘lubang’ dengan lidahku, menggigit kelentitnya (pelan, tentu saja), menyapu bibirku ke “bibir”nya. Asyik juga bermain seperti ini. Masing-masing sibuk, masing-masing merasakan nikmatnya. Entah sudah berapa lama kami bermain begini. Untung saja aku berhasil menahan diri untuk tidak keluar. Aku sekarang memiliki ketrampilan baru untuk mengontrol diri, mengatur diri kapan saatnya ‘keluar’. Kalau tidak, masa aku menyiram mulut Tante dengan maniku. Sampai akhirnya…. “Ayo, To….sekarang.To….” Aku memutar tubuhku, sementara Tante rebah terlentang membuka kakinya, siap menerima tusukanku. Aku masuk dengan gemas. Tante menerima dengan antusias. Untuk kesekian kalinya kami saling menggenjot. Bersama menuju puncak. Berbarengan menggelepar. Sudah itu Sama-sama lemas Sama-sama puas.
Oh, betapa bahagianya aku. Kebutuhan lahir dan batin terpenuhi. Kurang apa lagi ? *** Tak ada yang kurang pada diri Tante. Cantik, putih, tubuh bagus, permainan di tempat tidur luar biasa, dan kreatif. Kreativitas Tante tercermin dari cara bersetubuh. Ada saja yang dilakukannya yang membuatku merasa bersetubuh dengan orang baru. Selalu ada hal baru dalam setiap permainannya. Sejak Tante memperkenalkan “posisi 69″, aku selalu minta dikulum penisku sebagai acara pembukaan. Tante juga amat menikmati permainan lidahku di vaginannya. Seperti biasa sepulang sekolah aku mendekati Tante untuk melaksanakan ‘tugas’ rutin, bersetubuh. Aku sudah membuka resleting celanaku, mengeluarkan penisku yang tegang di dekat Tante yang sedang duduk di tepi ranjang, masih berpakaian lengkap, di kamar Tante yang sudah kukunci. Yah, semacam pemberitahuan bahwa aku sudah siap. Tapi tante menyambut dengan dingin, tak seperti biasanya. Ia hanya mengelus-elus. Ketika dengan kurang ajar aku mendekatkan kelaminku ke mulutnya, ia hanya mengecup lembut kepalanya, tidak dikulum seperti biasanya, paling-paling hanya menggenggam. “Tante engga bisa sekarang, To” “Kenapa Tante ?” “Tante lagi …itu..” “Lagi apa, Tante ?” “Lagi mens.” “Mens ? Apa itu Tante ?” “Kamu engga tahu ?” “Bener, Tante. Saya sungguh engga tahu” Memang aku tidak tahu. “Begini, setiap bulan wanita yang sudah dewasa mengalami masa menstruasi.
Wanita yang normal pasti mengalami” Lalu Tante memberiku kuliah tentang menstruasi itu. Bahkan ditunjukkannya kepadaku celana dalamnya yang berbalut itu. “Kalau begitu, besok saja ya, Tante” pertanyaan bodoh memang. “Engga bisa To. Masa mens biasanya sekitar seminggu. Tapi kalau Tante sekitar 4 – 5 hari.” Wah, menunggu 4 – 5 hari, mana tahan ? “Tapi Tante, saya ingin …” “Engga, To. Sabar aja ya, yang…” Aduh, pusing juga aku, keinginan sudah sampai ke kepala. “Bagaimana kalau begini saja Tante..” Kataku sambil menempelkan penisku ke bibir Tante, minta dikulum. “Engga bisa juga, To. Itu namanya kamu egois. Kamu bisa puas, tapi kalau Tante terangsang, gimana ?” Benar juga kata Tante. “Maafkan saya, Tante. Saya sungguh-sungguh belum tahu” kataku sambil memeluknya dengan mesra. “Engga apa-apa, To. Tante maklum” Dimasukkannya penisku, celana dalamku dibetulkan letaknya, lalu ditutupnya resleting celanaku. Mesra sekali. “Awas, ya. Jangan cari sasaran lain” katanya. Kucium kedua belah pipi Tante, dengan mesra juga. “Engga dong, Tante. Emangnya apaan.” Ternyata ada yang belum aku ketahui tentang wanita Sekarang masalahku, mana bisa aku menunggu 4 – 5 hari tanpa bersetubuh, setelah hampir tiap hari menikmati. Pulang sekolah agak kaget aku mendapati Tante duduk di sofa, membaca. Kucium pipinya. “Engga senam, ‘yang ?” “Engga, lagi banyak-banyaknya” “Apanya yang banyak ?” “Ah, kamu. Ya mens-nya” Aku mengerti. Tapi berarti hilang juga kesempatanku siang ini menyatroni mBak Mar. Paling tidak aku harus menunggu 2 hari lagi, jadwal senam Tante berikutnya, atau menunggu sampai Tante “bersih”.
Malamnya, terkantuk-kantuk aku menunggu Oom Ton dan Tante masuk kamar. Pukul 10.15 mereka masih asyik menonton TV. Aku masuk kamar duluan, gelisah. Setengah jam berikutnya kudengar TV dimatikan, lampu tengah juga, lalu kudengar suara pintu ditutup dan dikunci. *** Sengaja aku datang ke sekolah lebih pagi. Hari in ada ulangan Fisika dan aku merasa belum siap. Di rumah aku tak bisa konsentrasi belajar, ingatanku ke Tante melulu. Apalagi sekarang udah beberapa hari aku tak bersetubuh, pusing aku, mana bisa belajar di rumah. Pagi ini kesempatan terakhirku untuk belajar Fisika menghadapi ulangan nanti. Belum banyak kawan yang datang, cuma ada Tono, Edi dan Rika yang lagi ngrumpi. Dito belum nongol. Aku ambil bangku paling belakang, mojok, lalu mencoba berkonsentrasi. Lumayanlah dalam setengah jam aku bisa memecahkan soal-soal yang kuperkirakan akan keluar nanti. Juga beberapa rumus sempat “masuk’ ke otakku, sampai seseorang datang menghampiriku dengan senyuman yang amat manis. Yuli memang manis, apalagi kalau senyum. Masih ingat dengan Yuli, pembaca ? Yuli teman sekelasku yang kugambarkan badannya biasa-biasa saja, dadanya menonjol wajar dan wajahnya manis. Akhir-akhir ini kami makin akrab, sebatas dalam pelajaran lho! Sering saling meminjam buku catatan, diskusi soal-soal PR, atau cuma ngomongin guru-guru. Makin dekat kurasakan Yuli makin menarik, dadanya makin menonjol aja. Aku sudah berada di pelukan Tante sih, jadi aku kurang memperhatikan Yuli. Entah ini hanya ge-er saja, kulihat Yuli begitu ceria kalau berdekatan denganku. “Rajin bener. belajar Fisika ya..?” tegurnya sambil duduk di sebelah kananku. “Ah engga. Justru karena aku males, baru sempet belajar sekarang” sahutku “Pinjam catatan Matematiknya dong Tar” “Matematik ? Kan entar ulangan Fisika” “Iyyaa. Tapi kemarin gua engga sempet nyatet jawaban soal kemarin” Aku ulurkan buku Matematik, sambil memgang tangannya. Yuli membiarkan tanganku meremas tangannya, meskipun kemudian dia tarik tangannya, without any words. Tanda “penerimaan”. Tangannya halus bener .. Lalu dia dengan serius memelototi catatanku itu. Anak ini memang serius banget kalau belajar. Mataku tak lepas memperhatikannya.
Dia mungkin tahu aku melihatnya, tapi pura-pura tidak tahu. Ah .. Ini dia. Di sela-sela kancing bajunya, aku sempat “mencuri” keindahan sebelah buah yang tumbuh di dadanya. Hanya sedikit sih, tapi cukup membuatku “berdiri”. Apalagi daging itu terlihat sedikit naik-turun seirama tarikan nafasnya. Ah seandainya ..khayalanku melayang tinggi. Kuperiksa keadaan sekeliling. Masih sepi, memang masih pagi sih. Hanya ada 2 kawan yang tadi, lagi asyik menulis. Sekaranglah waktunya! Toh 2 teman tadi menghadap ke depan kelas, tak akan melihat bila aku “menggarap” Yuli. Segera saja tangan kananku merangkul bahu Yuli. Tak ada reaksi. Aksi kuteruskan dengan memegang dagu dan menariknya. Mata Yuli sedikit membelalak, agak kaget mungkin, tapi tak ada tanda-tanda penolakan. Ah. bibir merah membasah yang menggairahkan. Kucium bibirnya. Dan … Yuli membalas ganas ciumanku..! Tanganku mulai membuka kancing baju putih itu, lalu empat jariku menyusup ke balik BH-nya. Halus, padat, dan lumayan besar. Aku meremas. Yuli melenguh. Jariku mencari-cari putingnya. Mengeras. Tangannya kepangkuanku. Meremas juga. Sambil masih berciuman, aku melirik dua temanku tadi, mereka masih tak acuh sibuk sendiri. Aman! Bibirku menelusuri lehernya yang licin, terus kebawah. Kancing bajunya sudah terbuka semuanya. Kulepas baju seragamnya, lalu kudorong Yuli hingga rebah di bangku sekolah! Aku menindihnya hingga tubuh kami “lenyap” dari pandangan teman-teman tadi kalau mereka menengok ke belakang. Kuciumi habis-habisan kedua bukit perawan itu. Aku yakin bukit kembar ini belum tersentuh oleh “pendaki” manapun. Keras, dan padat. Aku tak sanggup menahan lagi. Walaupun pakaianku masih lengkap nempel di badan, tapi meriamku sudah nongol tegak dari rits celana, siap.
Kusingkap rok abu-abu itu jauh-jauh ke atas. Kupelorotkan celana dalam krem-nya… Amboi … bulu-bulu halus, merata di seluruh permukaan kewanitaanya.. Luar biasa.. Masa aku kerjain di sini, di kelas ? Biar saja. Kalau nanti ketangkap basah gimana ? Peduli amat. Kalau sudah begini, mana bisa “delay”, apalagi “cancel”. Lagi pula Yuli sudah merintih-rintih sambil membuka pahanya agak lebar. We got the point no return! Mulai sekarang ? Ya, tunggu apa lagi. BH-nya masih nempel. Biar saja, tak ada waktu lagi. Kutempatkan penisku ke “tempat yang layak”. Menyapu-nyapu sebentar di seputar pintu-basahnya, lalu mulai menusuk. “Uuuuhhhhhh ..” Yuli melenguh. Mentok. Padahal baru “kepala”ku yang tenggelam. Tusuk lagi dengan menambah tekanan. “Aaaahhhhh .pelan ..pelan ..sakiiit…” Desahnya pelan dan terbata-bata. Buset! Susah bener. Vagina yang satu ini sempit benar. Apa betul, Yuli masih perawan .? Mungkin juga. Sebab biasanya kalau sama Tante Yani tusukan begini sudah mampu mencapai “dasar”. Aku tusuk lagi lebih kuat, bahkan sekuat tenagaku. Dan ….. “Heh! ngelamun aja!”kudengar suara agak membentak. Suara Yuli! Aku tersadar. Aku kembali ke alam nyata. Kembali dari lamunan nakal. Lamunan bersetubuh dengan gadis yang duduk di sebelahku ini. Gadis yang baru saja mengagetanku! Ah.sialan. Kenapa aku begini ? Gara-gara mengintip sedikit buah Yuli, aku jadi melayang.. *** Hari berikutnya aku kurang beruntung. Tante ada di rumah mengajakku ngobrol. Hanya ngobrol. Sayang sekali tubuh molek ini belum bisa “dipakai”. Sembulan dada bagian atas Tante dan sedikit belahannya cukup membuatku kepingin. “Tante…” panggilku dengan suara serak” “Hmm ?” “Saya pengin, Tante” “Kamu itu, engga sabaran, engga pernah puas” “Bukan begitu, Tante. Saya puas, puas sekali. Cuma ketagihan, habis enak sih. Udah biasa setiap hari…” “Sabar, dong” katanya sambil menggenggam selangkanganku. “Eh, udah keras..” katanya lagi. “Iya, Tante. Saya siap setiap saat” kataku meniru iklan “Dasar…….! Dua hari lagi” “Lama bener..” Besok siangnya lagi, ada kejutan baru untukku. Tidak bersetubuh sih, tapi menyenangkan. Tante sedang duduk di sofa menyulam. Begitu datang aku langsung menyingkirkan kain sulamannya, lalu kucium pipi dan kemudian bibirnya. Aku langsung tahu bahwa dibalik gaun merah jambu, warna kesukaannya, Tante tak memakai BH. “Mandi dulu sana, To” “Udah bisa, Tante ?” tanyaku cerah. “Ih, kesitu aja pikiranmu. Belum, belum bersih” jawabnya sambil menuntun tanganku ke bawah perutnya. Masih ada pembalut di sana. “Jadi, gimana dong Tante” kuremas dadanya yang tak berkutang. “Pokoknya kamu mandi dulu” Aku mandi dan mengganti baju dengan penuh harap, barangkali ada kreativitas baru dari Tante. Aku keluar kamar. Ini dia kejutannya. Tante masih duduk di situ, hanya kancing gaunnya telah dibuka sampai perut, mempertontonkan sepasang buah dada yang mengagumkan.
Luar biasa. Berani benar Tante ini, bertelanjang dada di ruang tengah. Jelas belum bisa bersetubuh, tapi kelakuan Tante ini menandakan ada permainan apa lagi nih. Langsung saja kuserbu buah dada itu. “Eeeeehhhhmmmmmm” Dengan gemasnya aku mengacak-acak buah indah itu dengan mulut dan tanganku. Belum puas aku bermain dengan dada, Tante mendorongku sampai aku berdiri di depannya. Lalu.Tante membuka kancing jeans-ku! “Tante… Si Mar nanti…..” “Engga ada, lagi pergi…” Dibukanya resleting celanaku, diturunkannya celana dalamku, lalu dikeluarkannya penisku yang langsung tegang, digenggam pangkalnya, terus diciumi ‘kepala’-nya, lalu masuk mulutnya! Ooooohhh, nikmat sekali permainan baru ini. Suasana baru. Bayangkan. Di ruang tengah, berdua masih berpakaian, aku hanya mengeluarkan kelaminku, Tante mengulumnya dengan bertelanjang dada! Oh, indahnya dunia ini. “Ooohhhhhhhhh, Tante, …sedaaaaappp.” Kepala Tante bergerak maju-mundur, sangat perlahan. Terasa sekali bibirnya menjepit dan bergerak menelusuri permukaan penisku. “Tante..Tante…enaaaaaaaak, Tante..” Tante terus saja. Tanganku dituntun ke buah dadanya. Aku sampai lupa diri tak berbuat apa-apa pada Tante. Habis sedap sekali sih! Kedua tanganku meremasi sepasang buah kenyal itu. Tante terus bekerja. Geli, Tante…! Ya, geli. Aku hampir ke puncak. Entah mengapa kali ini aku cepat mendaki. Mungkin karena pintarnya bibir dan lidah Tante merayapi permukaan kulit kelaminku, atau karena suasana yang aneh ini. Aku tak mampu menahan lebih lama lagi. Tante rupanya tahu kalau aku hampir sampai, ia mempercepat gerakannya. Bagaimana kalau keluar, aku tak tega kalau sampai menumpahi mulut Tante dengan spermaku. Segera..ya..segera sampai…. Dilepasnya kulumannya, tangannya yang memegang sapu tangan secepat kilat menutupi kelaminku dan digenggam. “Aaaaaaaaaahhhhhh” sambil berteriak aku muncrat. Sedaaaaaaap. Tante meremas. Muncrat lagi, enak, meremas lagi, muncrat, nikmat, remas, sedap, muncrat, remas…. Beberapa detik aku terbang, kakiku goyah, lalu mendarat ditubuh Tante. Kucium mulutnya. Masih ada muncratan lagi, tertampung di saputangan. Ada lagi, makin sedikit….. Beberapa saat aku masih menubruk Tante, ia masih menggenggam dengan saputangan. “Terima kasih, Tante…” “Enak, To ?” “Sedaaaaaaap, Tante. Tapi lebih nikmat ke sini…” jawabku sambil memegang benda yang masih berpembalut itu. “Masih pusing ?” “Hilang, Tante. Lepas sudah…” Keteganganku memang lepas. “Tante sendiri, gimana dong, Tante ?” “Engga apa-apa. Ini ‘kan cuma membantu kamu” Kupeluk lagi Tante lebih erat.
Aku makin sayang saja sama Tanteku ini. “Terima kasih, Tante. Tarto makin sayang sama Tante” kataku jujur. “Sudah, cuci dulu sana. Ih, banyaknya….” “Iya, habis sudah tiga hari engga keluar.”. *** Sejak peristiwa ‘penguluman di ruang tengah’ kemarin itu aku jadi makin berani ‘kurang ajar’ kepada Tante. Seperti siang ini. Waktu Tante sedang duduk membaca di ruang tengah, aku mendekatinya dari belakang dengan kelaminku sudah kukeluarkan, terjulur kutempelkan di pipi Tante. “He, ngawur kamu.!” Tante kaget. Ditariknya punyaku. “Aauuu” aku teriak. “Masukkin, engga aman!” “Iya Tante, saya tahu. Cuma bercanda” Di hari berikutnya Tante membalas. Sewaktu aku sedang makan siang sendiri, Tante mendekatiku, sangat dekat sehingga perutnya hanya berjarak beberapa senti dari pipiku. Kucium bawah perutnya. Lalu Tante meraih tanganku, dimasukkan ke balik gaunnya, langsung vaginanya terpegang. Tak ada celana dalam di balik gaun Tante. “Sudah bersih, Tante ?” “Sudah..” Kuangkat gaun itu sehingga ‘rambut’ yang menggemaskan itu nampak. Aku langsung tegang, berarti siang ini bisa. Aku langsung berdiri meninggalkan makanku, memeluknya. “Tunggu dulu” kata Tante sambil mendorongku terduduk kembali. “Kali ini Oommu dulu, ya..” Katanya sambil meninggalkanku masuk ke kamarnya. Kurang ajar! Oom Ton ada di kamar. Seharusnya aku tahu, mobilnya ada di garasi. Tante masih sempat melihatku sambil tersenyum, sebelum ia mengunci kamar. Aku makin tegang ketika setengah jam kemudian lamat-lamat mendengar suara erangan Tante dari kamar.. Aku masuk kamar, tak tahan di situ. Tante sudah selesai mens-nya, seharusnya siang ini ia milikku. Tapi Oom Ton merebutnya. Merebut ? Memang Oom Ton pemilik sah. Aku gagal mencoba berkonsentrasi membaca Fisika, besok ulangan. Bayangan Tante disetubuhi suaminya yang muncul. Ah, sialan.. Setelah mencoba menyadari posisiku, aku jadi agak tenang. Aku ‘kan hanya kemenakannya yang dibantu, lahir dan batin, kenapa musti sewot ? Kelaminku mulai surut. Tapi itu tak lama. Tiba-tiba Tante masuk, langsung mengunci pintu kamarku. Disodorkan buah dadanya ke mulutku. Buah itu masih berkeringat, juga wajahnya. Tak peduli. Aku serbu dada itu, masih duduk di kursi belajarku. Kelaminku langsung membesar lagi.
Tante dengan tergopoh-gopoh membuka resleting celanaku, mengeluarkan isinya yang sudah keras menjulang. Ia melangkah naik ke pahaku. Mengarahkan kelaminku ke vaginanya, dan….blessss aku langsung masuk…! Gila! Tanpa pemanasan dulu Tante langsung main. Di kursi lagi. Untung aku cepat siap. Jadilah kami ‘berkudaan’ di kursi. Tante semangat sekali nampaknya. Dengan posisi berpangku berhadapan ia di atas, Tante leluasa mengeksplorasi penisku. Aku lebih pasif. Hanya kadang-kadang saja menusuk, soalnya berat, harus mengangkat tubuhnya dengan pinggulku. Edan! Setengah jam yang lalu aku mendengar Tante mengerang di kamarnya bersama Oom Ton, sekarang ia berkudaan denganku, sementara suaminya (mungkin) sedang pulas di kamar sebelah! Seakan ia tak ada puasnya. Atau jangan-jangan ia belum puas dengan suaminya lantas melanjutkan di sini ? Hanya Tante yang tahu. Betapa trampilnya ia menggenjot. Vaginanya begitu menjepit dan mengurut penisku, berulang-ulang. Begitu rupa ia menstimulasi kelaminku, membuat aku cepat naik. Geli sekali. Makin cepat dia, makin geli aku. Tiba-tiba tangannya mencekram kepalaku kuat sekali. Tubuhnya bergetar hebat, mengejang. Di dalam sana berdenyut-denyut. Bahuku digigitnya. Getaran tubuhnya makin hebat, lalu mendadak berhenti menggenjot. Mengerang. Tante sedang melayang di puncak.. Akupun hampir sampai. Aku sekarang yang menggenjot. Tante teriak. Vaginanya menjepitku teratur menandakan Tante telah orgasme. Aku tak peduli, sebab aku belum, cuma hampir sampai, terus menggenjot. Tante masih mencekeram erat, secara pasif mengikuti gerakan tusukanku yang naik-turun, lalu…akupun mengejang, melepas. Heran, Tante mengerang lagi, seharusnya aku yang teriak. Tante ikut menikmati ejakulasiku. Sejurus kemudian kami diam, masih berpelukan, Tante belum mencabut. Hanya nafas kami berdua yang masih berkejaran. “Tante hebat…” aku membuka percakapan “Apanya yang hebat, justru kamu yang hebat. Tante tadi ‘kan duluan” “Ah, kita hampir bersamaan kok tadi” “Jadi apa maksudmu hebat” “Tante bisa dua kali berturutan” “Ooh itu, engga juga sih..” “Tadi saya mendengar, waktu Tante sama Oom” “Ah, masa.?” “Iya, Tante mengerang, saya jadi ngiri.” “Kan kamu dapat juga” “Itulah makanya Tante bisa dua kali” “Kamu juga bisa dua kali, waktu malam itu.” “Iya, tapi ‘kan ada jarak waktu” “Sebenarnya Tante tadi cuma sekali” “Yang benar, Tante. Barusan Tante ‘kan sampai puncak..” “Iya. Cuma itu. Sama kamu” “Tadi sama Oom..” aku mulai menyelidik tentan hubungan Oom dan Tanteku ini. Tante diam saja. “Kok diam, Tante” aku benar-benar ingin tahu. “Ini kan masalah Tante dengan Oom-mu, rahasia dong” “Please, Tante, cerita dong. Tante kan isteri ku juga” buah dadanya kucium, putingnya masih keras. “Kamu engga usah tahu” “Ayolah, Tante” Tante diam lagi agak lama. Lalu…. “Sama Oommu Tante belum sampai …..” Kaget juga aku. Jadi, tak berhasil orgasme dengan suaminya lalu melanjutkan denganku. “Ah masa, Tante” “Itulah kenyataannya, To. Oom-mu engga bisa memuaskan Tante” Mungkin inilah sebabnya, Tante tiap siang tak menolak aku setubuhi, bahkan menikmati. “Pantesan……” “Pantesan apa ?” tanya Tante “Tadi Tante langsung masuk, engga pemanasan dulu” “Tante tadi senewen, To.
Ada rasa menggantung, ada yang harus dituntaskan” “Untung saya tadi udah siap” “Sory ya To…” “Engga apa-apa, Tante. Saya tadi juga puas. Cuma lebih nikmat kalau pemanasan dulu” “Kamu harus mulai terbiasa begini, To. Seperti yang Tante bilang dulu, Tante butuh kamu. Jangan kaget kalau tiba-tiba Tante pengin. Tante harus mencapai orgasme. Kalau tidak Tante bisa gila..” “Saya siap, Tante, Betul. Kapanpun Tante butuh saya, silakan saja Tante. Saya juga menikmatinya, Tante. Tanpa pemanasanpun saya engga apa-apa. Tadi saya bilang begitu, itu hanya akan lebih nikmat kalau dengan pemanasan. Kalau tidakpun engga apa-apa” “Syukurlah, To. Pemanasan gimana yang kamu inginkan, To ?” “Seperti inilah Tante” jawabku sambil menciumi dadanya. “Itu kalau kita sempat. Kalau kaya tadi, gimana ?” tanyanya lagi. “Kan saya siap, Tante” “Iya sih. Maksud Tante supaya kamu lebih nikmat, kamu perlu pemanasan” “Yang biasanya kita lakukan sudah dengan pemanasan ‘kan. Cuma tadi saja, yang tidak” jawabku sekenanya. Pertanyaan Tante sulit kujawab. “Waktu kamu denger Tante sama Oom tadi, kamu gimana” “Saya terangsang, Tante” “Okey, Tante ada ide buat pemanasan kamu, To. Tapi ide gila, mungkin” “Silakan, Tante. Saya senang sekali. Tante kreatif, saya menikmatinya” ‘Jangan kaget, ya. Kamu tahu kamar si Luki ?” “Tahu Tante” kamar Luki bersebelahan dengan kamar Tante. “Disitu kan ada pintu yang tembus ke kamar Tante” “Saya engga perhatikan, Tante” “Kalau kunci pintu itu Tante cabut, kamu bisa lihat ke kamar Tante dari lubangnya….kamu ngerti apa yang Tante maksud ?” “Belum, Tante” “Lubang kunci itu lurus ke tempat tidur..” Amboi. Berarti, kalau aku mengintip lewat lubang itu, aku bisa lihat kejadian tempat tidur Tante. Hubungannya dengan pemanasan, berarti….hebat, ide yang hebat. Kucium bibir Tante dengan gemas. “Ide brilian! Setuju banget tante!” kataku gembira. “Ntar dulu, setuju apa ?” “Aku akan mengintip Tante sama Oom, sebagai pemanasan” “Kamu cerdas. Menurut kamu ini gila, engga” “Engga! Saya mau Tante. Kita coba nanti malam ya.?” “Semangat banget” “Pengalaman baru” Aku sangat ingin melihat bagaimana Tante melayani Oom, bagaimana permainan Oom Ton! Tante diam lagi. Hanya sekejap, lalu. “To, Tante ingin main sama kamu di tempat terbuka…” kaget lagi aku. Tempat terbuka ? Aneh. Ini sih hebat banget. Aku ingat kemarin, Tante mengulumiku di ruang tengah. Nikmat. “Ide Tante memang hebat-hebat. Saya suka Tante. Tapi aman engga ? “Itu masalahnya” “Kita cari kesempatan, Tante. Pasti nikmat deh” Tante pelan-pelan bangkit, melepas. “Eeeeeeeeeehhhhhhhhh” lenguhnya mengiringi pencabutan ini.
Di pintu kamarku Tante nengok kanan-kiri sebelum keluar. Aku ke kamar mandi. Selesai dari kamar mandi aku lihat kamar Luki, kosong. Luki sedang dibawa pengasuhnya keluar. Pelan-pelan aku masuk, hati-hati pintunya kukunci. Ini dia pintu penghubung tadi. Aku mengintip. Tak melihat apa-apa, kuncinya masih menggantung. Aku kecewa. Kuncinya hanya bisa dicabut dari arah kamar Tante. Ia harus membantuku. Aku mencari Tante, lagi di kamarnya. Lebih baik aku makan dulu sambil menunggu Tante keluar. Benar, Tante keluar, segar sekali nampaknya. “Tante, cabut dulu kuncinya, saya mau coba” bisikku. Tante tersenyum, masuk lagi ke kamarnya. Dari lubang kunci di kamar Luki aku bisa melihat dengan jelas dari arah kaki, Oom sedang tidur pulas, hanya bercelana tidur. Kubayangkan, dari arah bawah ini aku akan bisa lihat kelamin mereka berdua, baik posisi ‘biasa’, Tante di bawah, atau Tante di atas. Kecuali kalau mereka memutar posisi dengan kakinya ke arah bantal, aku hanya bisa melihat kepala mereka, paling-paling dada Tante. *** Malam itu sekitar pukul 10, aku sudah berada dalam kamar Luki yang sudah pulas. Dari lubang kunci aku lihat mereka sedang membaca. Hanya sekali-sekali mereka bicara. Oom Ton mengenakan pakaian tidur lengkap, Tante memakai daster. Aku menyadari sebenarnya berbahaya aku disini. Bisa saja tiba-tiba Oom membuka pintu ini untuk melihat anaknya. Jadi setiap Oom bangkit, aku harus siap-siap. Kalau Tante sih, aku engga perlu bereaksi. Tegang juga aku. Ah, ternyata Tante juga berpakaian ‘lengkap’. Sekarang aku bisa dengan jelas melihat celana dalam merah jambu itu, karena Tante mengangkat sebelah kakinya. Kecil kemungkinannya mereka akan main malam ini. Setengah jam aku capek menunggu, Oom mematikan lampu baca, lalu tidur.
Kamar itu walaupun hanya diterangi lampu tidur, tapi cukup jelas aku bisa melihat tubuh mereka. Dengan kecewa aku kembali ke kamar dan tidur…. Esok siangnya, ketika kami baru saja melaksanakan ‘tugas’ nikmat dan masih terlentang berdua tanpa busana, kutanyakan pada Tante tentang semalam aku tak jadi menyaksikan ‘pertunjukan’ Tante dan Oom main. “Yaa.itulah To, Oom-mu memang jarang meminta, paling dua kali atau bahkan cuma sekali seminggu. Makanya Tante butuh ini” jawabnya sambil mencekal kelaminku. “Kenapa engga Tante yang minta” “Ah, Tante ‘kan melayani Oom-mu” “Tak ada salahnya Tante yang mulai” “Betul, memang. Tapi, sering Tante malah kecewa. Oom-mu kan hobinya kerja, jadi mungkin capek. Lebih baik Oom-mu yang mulai, itu artinya dia betul-betul butuh” “Sayang, memiliki badan sebagus ini tak optimal dimanfaatkan” kataku sambil mengelus buah dadanya. Tak bosan-bosannya aku pada buah kembar yang indah ini. “Sekarang sudah optimal” “Ya. Dan sayalah yang beruntung” “Tante juga beruntung punya kamu” Kamipun berpelukan erat. Kalau sudah begini, aku bisa lupa semuanya. Lupa pada Yuli, Rika, atau mBak Mar. Aku berguling, jadi menindihnya. Pahaku mendesak di antara pahanya. Penisku mencari-cari. Dan….aku masuk lagi. “Heeeeh!’ Tante teriak kaget. Aku mendorong. “Eeeeeeeehhhhhh” lenguhnya. Sekarang ia tak kaget lagi.
Aku menarik dan mendorong. Aku menikmati. Tante juga. Aku tak ingat bahwa ia tanteku. Tante lupa bahwa aku kemenakannya. Bahkan lupa bahwa kami berdua manusia. Begitu ‘gila’nya kami bermain, kami lebih mirip hewan. Hewan yang sedang menikmati reproduksi. Reproduksi bukan untuk mendapatkan keturunan, cuma untuk kenikmatan. Dan..kenikmatan kami dapatkan secara bersamaan. Gila! Sesiang ini kami telah dua kali bersetubuh! Memang edan. “Edan kamu, To…” komentar sesudahnya. “Supaya optimal, Tante..” komentarku juga. Kurasakan bagian dalam vaginanya berdenyut-denyut meremas penisku. Permainan yang melelahkan. Aku jadi lemas, penisku jadi pegal. Pegal-pegal nikmat ….!

Seorang Cowok Salah Masuk Ruang Ganti Baju Cewek

Lihat aja muka orang ini, udah tampangnya culun, bego lagi, dia lagi nyasar mau masuk ke ruang ganti baju khusus buat cewek!



Pede juga dia, gak pakai lama langsung lepas celana, kayaknya dia masih belum tahu kalau itu ruang ganti baju buat cewek.

Waduh, Kayaknya ada yang datang nih!!

Akhirnya! Baru tahu rasa dia, ternyata ada seorang cewek yang masuk. Ngomong - ngomong, orang ini tadi udah lepas celana yang dia pakai.




Lho, ceweknya kok malah nutup tirainya? Gak beres nih namanya!



"Mas..!! Ngapain juga ngintip sambil sembunyi di ruang ganti cewek seperti ini, kalau mau sama saya, ya udah ayuukkk sekarang..??"





Alamaaaakkkk...!!!



18 November 2011

Legenda Pasugihan Babi Ngepet

Pesugihan-pesugihan Babi Ngepet adalah siluman babi jejadian yang sudah populer dalam legenda masyarakat Indonesia. Dalam beberapa mitos yang berkembang diceritakan, babi ngepet adalah sosok manusia yang ingin kaya dengan cara mengambil pesugihan babi. Perilaku gelap mata dan jalan pintas dari praktek materialistis yang tak terkendali.

Tingginya kebutuhan hidup, rasa frustasi menghadapi persaingan bisnis yang semakin tidak rasional, banyak cara kotor dan kecurangan hingga berujung putus asa, tak jarang menjadi alasan pembenaran orang untuk melakukan tindakan gelap mata, termasuk mencari pesugihan babi ngepet ini. Padahal langkah pesugihan dalam beragam bentuknya adalah kegiatan sihir ilmu hitam. Sihir yang konon dipercaya akan banyak membantu seseorang untuk cepat kaya, namun juga memiliki persyaratan dan perjanjian dengan makhluk halus melalui pawang babinya.

Secara teknis, mereka yang berniat menjalani ritual babi ngepet akan mendatangi dukun khusus atau paranormal yang ahli menangani masalah pesugihan ini. Setelah disepakati, sang dukun konon akan melakukan pertapaan dan ritual tertentu, lalu menyepakati perjanjian dengan pengorbanan nyawa. Umumnya pengorbanan yang diminta berasal dari orang yang mereka cintai, anak, orang tua atau orang disekitarnya yang memiliki hubungan darah. Berikutnya, ketika akan melakukan praktek pesugihan, orang tersebut akan menyerahkan jiwa dan raganya pada setan untuk bertransformasi menjadi babi hutan dalam jangka waktu tertentu.

Konon dalam ritualnya setelah berhasil melakukan transformasi, maka dilanjutkan dengan langkah aksi yang musti dilakukan minimal oleh dua orang. Si Pelaku pertama harus mengenakan jubah hitam untuk menutupi tubuhnya. Dan secara ajaib, si pelaku lalu berubah menjadi babi. Inilah sosok siluman babi yang akan menjalankan aksinya, meski umumnya dilakukan oleh kaum lelaki, terkadang ada juga perempuan yang nekad.


Sementara orang kedua, telah menyiapkan wadah berisi air yang di tengah-tengahnya diletakkan lilin yang menyala. Orang kedua ini harus menjaga lilin agar tidak goyang apinya. Apabila api lilin sudah mulai goyang, artinya orang yang menjadi babi itu mulai dalam bahaya. Tugas si penjaga lilin adalah mematikan lilinnya agar si babi dapat berubah kembali menjadi manusia biasa, dan konon otomatis si pelaku juga akan hilang dan berada di tempat aman. Pendapat tambahan yang sedikit berbeda, bukan hanya lilin bergoyang, bisa juga kalau warna api mulai memudar, itu juga menunjukkan tanda bahaya bagi si babi.

Babi ngepet biasanya mengambil uang dengan cara menggesek-gesekkan tubuhnya di pintu lemari yang menjadi target buruan. Ata dalam versi lain menyebut si babi menggosok-gosok badan atau pantatnya pada tembok. Konon, kalau penjelmaan babinya sudah sukses, sang pelaku akan melepas jubah hitamnya dan kembali lagi menjadi manusia. Sementara harta buruan yang diambil akan berada di dalam jubah hitam yang baru dilepasnya.

Namun demikian, konon kalau si penjaga lilin tidak selalu waspada dalam memperhatikan bara api lilin, bisa membahayakan pelaku pesugihan. Si babi akan mudah tertangkap oleh warga yang berjaga malam dan bisa berujung pada kematian. Maka, perilaku seperti ini bukan tidak memiliki resiko, bahkan segala jenis persepakatan dengan makhluk halus memiliki konsekuensi yang seringkali di luar pemikiran manusia. Sebab, dunia gaib memang bukan dunia rasional yang tampak oleh mata.

Meski tindakan ini berada di luar logika, namun peristiwa keanehan dan penangkapan babi ini tak jarang ditemukan oleh warga di beberapa daerah. Penangkapan sejenis babi di perkampungan tentu menjadi fenomena yang kemudian disambungkan dengan legenda babi ngepet ini. Terlebih binatang babi yang ditemukan memiliki sifat yang relatif aneh dari umumnya babi.

Namun bagi masyarakat yang berpendidikan, tentu harus berfikir panjang dan jauh. Jangan memutuskan segala sesuatu kejanggalan dalam masyarakat sebagai pertanda pesugihan babi ngepet tanpa bukti yang jelas. Sebab tidak jarang, pandangan skeptis masyarakat tentang hilangnya uang dan perhiasan secara tiba-tiba akibat babi ngepet ini, juga membawa dampak ikutan dan berujung pada kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Tak sedikit yang asal membunuh babi hutan yang diburu secara besar-besaran karena alasan yang juga tak jarang lahir dari persepsi.

17 November 2011

Akibat Menelan Baterai, Bocah 2 Tahun ini Harus Menjalani Operasi Hingga 18 Kali

Pengasuhan anak balita memang membutuhkan tingkat kewaspadaan tinggi. Ini untuk menghindari kasus yang membahayakan nyawa anak, seperti yang menimpa seorang bocah dua tahun asal Arizona berikut ini.

Seperti dikutip dari Fox News, bocah bernama Emmett Rauch itu terpaksa menjalani 18 kali operasi dalam setahun terakhir gara-gara tak sengaja menelan batu baterai yang terlepas dari remote control.
Emmett Rauch
Karla, sang ibu, mengatakan bahwa tidak ada yang melihat Emmett menelan baterai tersebut. Ia baru menyadarinya saat putranya mengalami demam tinggi dan berobat ke rumah sakit.

Lewat pemeriksaan sinar X, komponen kimia baterai tersebut rupanya sudah membakar kerongkongan. Dokter memperkirakan bahwa bocah itu menelan baterai tiga hari sebelum pemeriksaan.

Rumah Sakit Anak Phoenix menyebut bahwa kasus itu bukan kali pertama. "Kami memiliki dua kasus serupa dalam beberapa minggu terakhir, dan sepertinya menjadi lebih dan lebih sering," kata Michelle Chacon, seorang perawat setempat.

Chacon mengatakan, baterai lithium, yang biasa digunakan dalam jam tangan, bisa menimbulkan bahaya yang lebih besar jika masuk ke tubuh manusia. Itu karena jenis baterai mini tersebut tidak memiliki pelindung sebanyak baterai AA.

Meski demikian, bukan berarti anak tetap aman bermain dengan baterai AA. Yang penting, tetap perhatikan gerak anak saat bermain, karena banyak mainan anak yang berfungsi dengan energi dari baterai.

Jasa PSK Di penjara Salemba

Syaripudin S Pane adalah salah seorang mantan narapidana yang pernah menghuni penjara Salemba. Dia waktu itu dijebloskan ke penjara Salemba karena terbukti bersalah atas tuduhan pemalsuan dokumen visa palsu, Syaripudin S Pane mendekam di penjara Salemba selama 4 bulan setelah dipotong masa tahanan 3 bulan dari vonis yang dijatuhkan kepadanya yaitu 7 bulan kurungan.

Setelah keluar dari penjara tersebut, Syaripudin S Pane membongkar ke publik tentang kehidupan seks di dalam penjara Salemba. Seperti di film - film yang biasa kita tonton melalui televisi, ternyata bisnis prostitusi di dalam penjara Salemba memang benar - benar dapat diajalankan dengan mulus, tentunya jika ada fulus.

Menurut penuturan Syaripudin S Pane bisnis prostitusi yang melibatkan jasa PSK di dalam penjara tersebut adalah hal yang biasa. Bahkan para petugas juga telah menyiapkan tempat bagi para napi yang ingin menggunkan jasa PSK dengan tarif yang berbeda - beda berkisar antara 50 ribu sampai 500 ribu.


Sebagai contoh, tempat - tempat yang disewakan petugas adalah bervariasi, mulai dari wc atau kamar mandi hingga tempat rapat para pejabat rumah tahanan yang memiliki fasilitas sofa ekstra nyaman.


bagi para napi yang mempunyai uang banyak dan ingin menikmati hubungan seks yang lebih baik, maka cukup menyediakan uang Rp. 500 ribu untuk perjamnya dan 2,5 juta untuk full time 1 hari.

Wanita Hamil ini Mengidam Makan Daging Burung Hantu, Rubah & Hewan Liar Lainnya

Alison Brierley, seorang wanita yang berprofesi sebagai seniman kerap menggunakan kulit dan bulu rubah, kelinci, rusa, burung hantu hingga serigala menjadi barang-barang kreasi bernilai seni. Namun, wanita 42 tahun ini langsung berubah mengonsumsi berbagai jenis daging hewan liar setelah kehamilannya. Hampir setiap hari ia memasukkan daging beragam jenis hewan liar yang dia peroleh di setiap sudut jalan dan sekitar tempat tinggalnya di Harrogate, North Yorkshire, Inggris sebagai menu harian. "Biasanya saya makan yang benar-benar sehat. Tapi, saat hamil saya sangat mendamba menyantap daging hewan liar," jelas Brierley.
Alison Brierley
Menurutnya, rasa daging hewan liar lebih bervariasi daripada daging yang umum dijual di supermarket. "Rasanya lebih menyenangkan dan saya menyukainya. Saya juga tidak perlu merasa bersalah memakannya karena itu adalah hal yang alami. "

Alison mengaku pernah mencicipi daging kelinci, rusa, merpati hingga burung hantu. Burung hantu adalah daging favorit yang paling sering dia santap.
Alison Brierley
"Saya ingin mencoba rubah dan serigala, tapi mereka tidak pernah saya temukan dalam kondisi yang cukup baik walaupun saya pernah menggunakan mereka untuk karya seni saya." ujarnya.

Wanita ini bahkan kerap menjadi koki pesta masakan jalanan bagi teman-temannya. "Mereka percaya saya koki yang baik dan mereka menyukainya. Saya memperoleh daging segar dari teman-teman yang berburu hewan saat pulang kerja atau berburu," tambahnya.
Alison Brierley
Brierley percaya, makan daging segar merupakan gaya hidup alternatif yang lebih sehat. "Salah satu alasan saya adalah  meyakinkan masyarakat untuk melakukan gaya hidup sehat ketimbang hanya mengambil makanan dari rak supermarket," kata Alison.

16 November 2011

Clawson Stilton Gold, Keju Mewah Bertabur Emas Termahal di Dunia

Irisan keju biasanya berwarna putih pucat. Tetapi tidak untuk keju yang satu ini, karena justru terlihat cantik sekaligus mewah. Bagaimana tidak, terdapat taburan emas di dalamnya.

Ini adalah keju Clawson Stilton Gold yang bertabur emas asli. Harganya tentu tidak murah, sepotong keju ini dibanderol £60 atau Rp850 ribu. Sebagai tambahan, ada cracker tipis yang harganya £6 atau Rp85 ribu.

Dengan harga semahal itu, keju Stilton tetap memiliki banyak penggemar. Menawarkan kemewahan dan eksklusivitas, menurut pihak dari Long Clawson Dairy, perusahaan yang memproduksi Stilton, para sosialita dan selebriti banyak yang sudah masuk dalam daftar tunggu untuk mendapatkannya.

Keju mewah ini memang hanya akan diproduksi secara terbatas untuk perayaan Natal. Terbuat dari Stilton premium putih dengan kombinasi real edible gold leaf dan real gold liqueur, menurut penciptanya keju ini jadi keju paling 'cemerlang' di Inggris.

Harganya 67 kali lebih mahal dari keju Stilton biasa. Clawson Stilton Gold ini, ternyata keju Stilton termahal di dunia. Demi menjaga privasi dan eksklusivitas, Janice Breedon, juru Long Clawson Dairy, merahasiakan siapa saja yang sudah memesan keju mahal ini.

"Untuk alasan ke kerahasiaan, aku tak bisa memublikasi siapa yang memesan Clawson Stilton Gold, tapi bisa dikatakan mereka cukup terkenal. Anda bisa melihat secara jelas taburan emas dalam tiap iris keju dan kita menaburkan dalam jumlah banyak didalamnya," kata Breedon, dikutip dari Daily Mail, 16 November 2011.

Cowo Mana Yang Tahan Dengan Cewe Kayak Gini,Cekidot Gan??

Digilir Oknum Polisi & 3 Temannya, Wanita ini Melahirkan Seorang Anak

Nurhayati (29) terpaksa menanggung malu setelah diperkosa salah seorang anggota polisi. Nahasnya, oknum tersebut memperkosa Nurhayati bersama dengan tiga orang lainnya.

Dia menceritakan, peristiwa tersebut terjadi pada Desember 2003 lalu. Saat itu dia tengah meminta pekerjaan kepada
oknum polisi yang diketahui bernama Bambang.

Dalam percakapan tersebut, Bambang sempat menawarkan pekerjaan di kedai kopi. Hari itu juga, mereka sepakat untuk bertemu di Jalan Sidomulyo.


"Di sana ternyata tiga temanya sudah menunggu. Mereka langsung membekap saya dan membawa saya ke kamar. Setelah itu saya disuruh buka baju, saya nolak. Bambang mengeluarkan pistolnya, yang masih ingat ada dua peluru sebagai bukti bahwa pistol tersebut adalah sungguhan. Di sanalah saya diperkosa Pak," kata perempuan berbadan kurus ini, Senin (14/11/2011).

Dia mengaku malam itu
diperkosa empat orang berulang kali. Setelah puas, mereka melepaskan dirinya.

"Setelah kejadian itu, saya sudah lapor ke Polsek Tampan, Polresta Pekanbaru, Polda Riau, namun sampai sekarang tidak ada kejelasan kasus saya ini Pak. Apa karena saya tidak punya uang sehingga polisi tidak mau mengurus kasus saya," ceritanya sambil menunjukan
bukti laporan polisi.

Bahkan akibat
perkosaan di malam Tahun Baru itu Nurhayati hamil. Kini anaknya telah berusia 7 tahun.

"Harapan saya, ada keseriusan polisi untuk bisa menangkap pelakunya. Bila terungkap saya sudah lega. Biar dia dihukum seberat-beratnya, " pintanya.